Mafia Hukum menurut Satgas Mafia Hukum:
Mafia Hukum menurut KP2KKN (2006):
Mafia Hukum menurut Satgas Mafia Hukum:
Mafia Hukum menurut KP2KKN (2006): Lawan rendah hati adalah sifat sombong. Tentang kesombongan, ditegaskan oleh Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi :
الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِ، وَالْعَظَمَةُ ِإزَاِريْ، فَمَنْ نَازَعَنِيْ ِفيْهِمَا قَََصَمْـتُهُ وَلاَ أُبَالِيْ
Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Siapa melepaskan kedua pakaian itu dari-Ku, maka Aku akan membinasakannya dan tidak akan Aku berikan rahmat kepadanya. (HR Muslim)
Syaikh az-Zarnuji memberi nasihat kepada kita agar menjauhi sifat sombong dalam sebuah syair yang tercantum dalam kitab karya beliau, yaitu “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :
وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّـنَا صِـفَةٌ بِهِ * مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَـنَّبْـنَهَا وَاتَّقِى
Kesombongan adalah satu sifat yang dimiliki Tuhan kita
Maka jauhilah sifat itu dan takutlah ( jagalah) dirimu
Mengapa terkadang bahkan seringkali kita sombong? Kenapa setan berhasil menanamkan sifat itu pada diri kita? Biasanya kita akan menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Namun, adakalanya kita bersikap sombong justru untuk menutupi kekurangan kita. Banyak orang berkata,
“Sudah miskin, sombong pula.”
“Tak punya ilmu tapi lagaknya seperti ahli hadits.”
“Air beriak tanda tak dalam.”
“Tong kosong memang berbunyi nyaring.”
Banyak lagi ungkapan yang menunjukkan kesombongan. Kesombongan sebenarnya tak mempunyai kelebihan sedikit pun. Satu-satunya kelebihan yang dimiliki hanyalah sifat sombong itu sendiri. Dan, sungguh, itu sebuah kerugian.
Berikut ini penulis uraikan hal-hal yang bisa membuat diri kita menjadi sombong. Dengan mengetahuinya, maka kita bisa memohon kepada Allah agar terhindar dari sifat ini. Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat sombong dan memelihara kita dengan sifat tawadhu‘, amin.
a. Harta
Harta bisa menjadikan diri kita merasa bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri. Harta juga yang membuat kita pamer kepada orang lain, khususnya kepada orang yang tidak sekaya kita, apalagi terhadap orang-orang miskin.
Mungkin kita akan berkata, “Saya berhak sombong karena harta saya melimpah-ruah. Kekayaan saya dimakan 7 (tujuh) turunan juga tidak akan habis. Mulai dari anak, putu (bahasa Jawa, artinya cucu), buyut (cicit), canggah (piut), wareng (anggas), udeg-udeg (piut-miut) dan gantung siwur (keturunan ketujuh).”
Dalam Al-Qur’an al-Karim, Allah membuat perumpamaan orang sombong karena kekayaan kebun yang dimiliki.
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”
(QS al-Kahfi [18] : 32-34)
Pertanyaannya adalah, “Apakah kita memang berhak sombong karena harta segunung?”
Ada sebuah kisah yang akan mengingatkan kita bahwa harta kekayaan yang kita miliki nilainya sangat sedikit. Pada suatu malam Khalifah Harun ar-Rasyid sedang gelisah, kemudian beliau meminta pengawalnya untuk mengundang seorang ulama ahli hikmah. Sesampai di istana, ulama tersebut disuguhi hidangan dan minuman air putih. Singkat cerita, terjadilah percakapan antara khalifah dengan sang ulama. Harun berkata,
“Kyai, saat ini saya sedang gelisah. Mohon nasihat dari Kyai agar pikiran saya tenang, hati pun tidak resah. Saya ingin mengaji.”
“Baginda, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jamuan ini. Kalau boleh, saya ingin bertanya,” kata sang ulama.
“Silakan, Kyai.”
“Begini, Baginda. Harga segelas air putih ini berapa ya?”
“Saya kira mau bertanya apa, Kyai. Harga segelas air putih itu murah sekali, hanya beberapa dirham. Kalau Kyai mau, nanti saya kirim berbotol-botol ke rumah Kyai. Bila perlu, sebanyak air di kolam istana.”
Sang ulama tersenyum tulus mendengar tawaran Harun ar-Rasyid. Baginya, senyum adalah ibadah, sebagaimana dicontohkan sang teladan mulia, Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ulama itu pun menjawab,
“Terima kasih atas kemurahan hati, Baginda. Kalau diperkenankan saya ingin bertanya lagi. Misalnya saja musim ini musim kemarau yang sangat panjang, sehingga kerajaan ini dan kerajaan-kerajaan lain kekeringan—hanya tersisa satu gelas air ini saja yang bisa diminum. Kira-kira, Baginda mau membeli segelas air ini dengan harga berapa?” lanjut sang ulama.
Suasana hening sejenak. Harun ar-Rasyid mengerutkan keningnya untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan sang ulama—pertanyaan yang baginya sungguh aneh. Namun, dia percaya tidak mungkin sang ulama akan sembarangan bertanya, pasti ada hikmah di balik itu semua. Lalu sang Khalifah pun menjawab dengan mantap,
“Kyai, kalau memang itu terjadi, maka berdasarkan fiqh bahwa mempertahankan hidup hukumnya wajib, saya akan membeli segelas air putih itu dengan seluruh kerajaan saya beserta isinya. Harta bisa dicari Kyai, asalkan kita masih hidup.”
Sang ulama mengangguk pelan tanpa suara, menunjukkan dia benar-benar mengerti bahwa Harun bersungguh-sungguh dengan jawabannya. Dengan suara yang begitu tenang dan lembut, sang ulama melanjutkan nasihatnya,
“Begitu ya, Baginda. Kalau memang itu yang akan Baginda lakukan; maka ingatlah, ternyata seluruh harta kekayaan Baginda—kerajaaan beserta isinya—hanya seharga segelas air putih ini. Betapa Allah Maha Kaya, sedangkan kita makhluk yang fakir.”
Suasana kembali hening, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Tiba-tiba, air mata menetes membasahi pipi Khalifah Harun ar-Rasyid. Sambil menangis, sang Khalifah berkata ,
“Kyai... Terima kasih atas nasihat bijaknya.”
Kisah di atas juga tercantum di buku tulisan Dr. ‘Aidh al-Qarni yang berjudul “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, dengan versi yang berbeda namun intinya sama. Wallâhu a‘lam bish-shawâb. Seorang ulama bertanya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid,
“Jika engkau tidak diizinkan Allah untuk meminum seteguk air-Nya, dapatkah kiranya engkau menebusnya dengan kekayaan dari kerajaanmu?”
“Demi Allah, tidak!” jawab Harun.
“Wahai Harun, dapatkah engkau menebus air yang telah engkau keluarkan dengan setengah perbendaharan kerajaanmu?”
Maksud air yang telah dikeluarkan adalah keringat, air seni dan sejenisnya. Bila Harun ar-Rasyid tidak bisa berkeringat, buang air kecil dan meneteskan air mata, apakah bisa ditukar dengan setengah perbendarahaan kerajaannya? Mendengar pertanyaan itu, Harun sadar bahwa apa yang dia miliki hanya sedikit saja. Dengan keyakinan mantap, Harun menjawab,
“Tidak, demi Allah. Kerajaan yang nilainya tidak lebih banyak dari seteguk air, bukanlah kerajaan yang sesungguhnya.”
Dari cerita tersebut, tidakkah kita sadar bahwa kita ini fakir? Apakah layak kalau kita sombong karena harta yang kita miliki?
Barangkali kita akan berkilah, “Ah, itu kan misalnya, hanya sebuah cerita; kalau musim kemarau berkepanjangan sehingga semua negara kekeringan. Itu dogma, tidak akan terjadi, apalagi di Indonesia. Di negara kita, air melimpah, banyak perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), bahkan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) pun masih aman-aman saja.”
Kalau memang itu argumentasi kita, apakah kita tidak tahu bahwa Allah Maha Kuasa (Al-Qâdir) untuk mengembalikan kita seperti bayi lagi yang tidak punya harta sesen pun, dan itu bisa terjadi dalam hitungan detik sebagaimana Qarun dan seluruh hartanya? Tidak ingatkah kita bagaimana tsunami di Aceh telah meluluh-lantakkan semua bangunan? Apa kita lupa bagaimana gempa yang terjadi di nusantara serta belahan lain bumi ini telah meratakan semua rumah dan gedung? Harta yang kita kumpulkan bertahun-tahun, langsung lenyap dalam sekejap.
Mungkin kita masih menampik fakta tersebut dengan berkata, “Itu kan memang daerah rawan. Rumah saya di daerah aman, tidak akan ada tsunami atau gempa. Jadi tidak perlu kuatir.”
Kalau memang itu dalil kita, lupakah kita bahwa setiap musim liburan/lebaran, ada saja rumah, kompleks pertokoan atau pasar yang terbakar; dengan penyebab klasik, yaitu listrik korslet (hubungan arus singkat)? Padahal sudah ada pengaman listrik seperti sekering dan MCB (Mini Circuit Breaker)? Bukankah sudah kita lihat bersama-sama bagaimana banjir melanda berbagai wilayah negeri ini termasuk kota besar seperti Jakarta? Dalih apa lagi yang akan kita ajukan?
Bermegah-megahan dalam harta dan segala yang bersifat kebendaan bisa melalaikan kita akan pertemuan yang pasti di hari yang dijanjikan. Terlalu sibuk dalam sarana dan melupakan tujuan utama adalah suatu kebangkrutan. Bermegah-megahan dalam harta berarti usaha memperkaya diri dengan mengumpulkan dan menimbun kekayaan materi untuk dinikmati, tetapi tidak dinafkahkan sesuai hak dan kewajiban. Dengan demikian, itu justru berarti kemelaratan yang menyibukkan. Umur habis untuk mencari tetapi hakikatnya tanpa hasil.
Siapa yang mendahulukan bentuk daripada isi, mendahulukan kulit luar daripada niat dan tujuan utama, mendahulukan dunia daripada akhirat, dan mendahulukan makhluk daripada Khaliq adalah seorang hamba yang sesat jalan dan buruk nasibnya di akhirat kelak.
Sudah lupakah kita bahwa seluruh nikmat yang kita terima adalah anugerah Allah? Apakah kita mengira bahwa nikmat itu akan kekal selamanya? Apakah kita tidak memperhatikan firman Allah bahwa yang berhak sombong hanyalah Beliau Yang Maha Memiliki Kebesaran (Al-Mutakabbir)? Kalau kita mengenakan pakaian kesombongan, bukankah itu berarti kita menantang Allah? Tidakkah itu mengandung maksud bahwa kita memproklamirkan diri sebagai tuhan? Kalau sudah begitu, siapakah yang sanggup melawan Allah, Penguasa Alam Semesta (Mâlik Al-Mulk), Raja Diraja (Al-Malik) dengan semua ke-Mahagagahan dan ke-Mahaperkasaan-Nya? Wal ‘iyâdzu billâh.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda :
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْـقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah (atom). (HR Bukhari)
Menyadari kefakiran kita, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah :
اللَّهُمَّ لاَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَاۤدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Ya Allah, tiada yang dapat mencegah apa yang Engkau anugerahkan, tiada juga yang memberi apa yang Engkau cegah, tiada pula yang dapat menolak apa yang Engkau tetapkan. Tidak berguna dan tidak pula dapat menyelamatkan seseorang dari kekayaan, kedudukan, anak, pengikut dan kekuasaannya. Yang menyelamatkan dan berguna baginya hanyalah anugerah dan rahmat-Mu.
Daftar Pustaka :
Tulisan ini berlanjut ke : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (2 of 12)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#
Diposkan oleh faisol di 00.00 ![]()
![]()
Label: harta, kekayaan, nikmat, sombong
Terima kasih kerana post yg ini. Boleh saya buat penyalinan yg sama ke blog saya untuk pengetahuan kepada saudara2 lain?
faisol mengatakan...
terima kasih juga saya haturkan... monggo2 saja... semoga bisa menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahal (MLP) bg kita semua, amin...
Nanang mengatakan...
Assalamualaikum mas Faisol,
Luar biasa tulisan mas faisol ini, berpengetahuan luas, detail dalam penjabaran, dan menyejukkan hati. Saya baru membaca beberapa
Dunia yang penuh bayangan indah
Kenikmatan dunia, hanyalah Bayangan semu, seperti telah kami ungkapkan dulu, ketika masih SD, melihat kakak SMP, hebat dst, setelah SMP betapa hebatnya sekolah di SMA dst, setelah SMA hebat dst Kuliyah , betapa enaknya bila sudah kerja, ternyta tidak enak jua.....
Seakan minum miras, itu membuat mereka berada di syurga, namun fakta yang berbicara, telah sering saling terjadi bertengkar meskipun meskipun sesama teman habis meminumnya, banyak sopir bertabrakan sehingga banyak mayat karenanya, ...
Maka sadarlah..............berfikirlah....................
Slogan diatas sering kita dengar, tetapi kadang diri kita sendiri tidak menyadari apa makna dan substansi dari kalimat tersebut. Secara bahasa, hubb al-dunya adalah mencintai harta benda, adapun secara istilah yaitu mencintai harta benda yang diangap mulia, tidak tahu di akhirat menjadi sia-sia . Seiring dengan perkataan ulama:
اَلدُّنْيَا كُلُّ مَا لاَ يَنْفَعُ فِى الأَخِرَةِ
“Dunia adalah sesuatu yang tidak akan membawa manfaat di akhirat”.
Dalam kitabnya: Abyanal Hawaaij : V, Syeh Ahmad Rifa’I menuliskan batasan pengertian hubb al-dunya sebagai berikut :
Hubb al-dunya adalah sikap mencintai kehidupan dunia dengan melalaikan atau mengesampingkan kehidupan di akhirat kelak. Perwujudan yang menonjol dari sifat ini adalah sikap mencintai harta benda dengan melupakan kesadaran bahwa harta benda tidak akan bermanfaat di alam akhirat. Sikap mencintai dunia cenderung menjadi penyebab timbulnya kesalahan dan sikap melupakan Allah, sebagaimana dalam kitab beliau yang lain dijelaskan: Orang yang cinta dunia (harta) menjadi sebab banyak kesalahan karena menjadi sebab banyak lupa kepada Allah SWT . Penjelasan Syeh Ahmad Rifa’I ini sesuai dengan sabda Nabi SAW :
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ
" Cinta dunia adalah pangkal segala malapetaka "
Penjelasan mengenai makalah di atas, sayangnya seringkali tanpa sadar masih kita amalkan. Nah, bahwa sumber malapetaka di negeri ini bermuara kepada cinta dunia yang berlebihan, termasuk dalam soal korupsi (corruption) ini. Jadi, karena kedua persoalan di kepentingan politik dan ekonomi saja, melainkan kepentingan duniawi sudah masuk mempengaruhi akal fikirannya. Sebagai contoh kalau ada orang berkelahi, coba cari sumbernya, tentu kepentingan. Orang Islam dengan orang Islam berkelahi, itu tidak mungkin berebut surga, tapi sumbernya adalah kepentingan.
Kita semua, dari para ulama pendahulu kita diajarkan bahwa dunia ini hanya sekedar wasilah, bukan ghayah (tujuan). Bahwa hidup di dunia ini ibarat sekedar singgah untuk minum. Kalau dalam fikirannya membawa satu keyakinan bahwa segalanya dunia, al-Quran dibaca beribu kali itu pun tidak akan berpengaruh, apalagi al-Quran hanya dagingnya saja (difahami sebagai simbolik saja). Dzikir atau istighatsah, Mujahadah tidak akan ada gunanya kalau cuma daging saja. Karena itu, seperti apa yang kita ketahui, bahwa sumber dari segala sumber itu adalah konsep dunianya kita sudah berubah jauh. Di bawah sadar, diam-diam kita sudah tidak lagi menganggap dunia sebagai perantara/wasilah, tetapi sebagai tujuan. Jadi, karena orientasi inilah korupsi terjadi. Karena itu, kalau ada kesempatan, walaupun tidak ada niat, tidak akan terjadi, dan niat ini, melalui orientasi niat dia semata terhadap dunia.
Dan memang, penyakit cinta dunia (hubb al-dunya) itulah salah satu sumber kehancuran utama umat Islam. Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.” (HR Hakim dan Tirmidzi).
Orientasi dunia ini dipertebal dengan orientasi yang begitu simbolik atas keberagaman kita. Terlihat situasi sekarang yang berkembang adalah bahwa kita beragama lebih bersifat simbolik, atau tidak substansial. Bahasa simbolik itu kita katakan ‘daging’. Semua ini bagian kecil saja dari hal yang meliputi problem kita tentang korupsi.
Tampaknya, keberagaman kita sudah jatuh pada yang sifatnya daging-daging saja. Saat ini, saya kira kita menyaksikan orang jihad fi sabilillah untuk mengegolkan pelajaran agama dimasukkan dalam sekolah-sekolah formal, mulai TK sampai perguruan tinggi. Tetapi, mereka sama sekali tidak melihat pelajarannya itu seperti apa. Padahal, ujiannya hanya seperti berapakah rukun shalat? Kalau jawaban angkanya benar, lulus begitu saja, entah soal paham makna shalat atau tidak, tidak menjadi masalah. Jadi, daging semua. Sekarang ini, substansial/ruh itu sudah semakin jauh, karena kita sudah ke daging dan daging. Jadi, kalau kita ingin mengembangkan gerakan anti korupsi, kita tidak boleh terjebak pada gerakan anti korupsi yang sifatnya ‘daging’nya saja. Sejak awal, kita juga harus mulai melihat dari akarnya, hingga menghentikan korupsi waktu dan lain sebagainya.
Melihat kondisi yang sudah carut marut demikian, seringkali kita hanya bisa menaruh harapan pada yang muda. Memang, harapan kita tinggal anak-anak muda dan para calon ulama-ulama yang muda juga. Kita ini sudah jauh dari nilai-nilai kita sendiri. Bagaimana kita mau melawan kebusukan-kebusukan dan semua yang korupsi, kalau kita sendiri tidak tahu bahwa kita ini busuk atau tidak? Jadi, harapan memang pada yang muda. Karena, yang muda-muda ini relatif belum tercemari model pendidikan hubb al-dunya itu dan masih dapat menjaga diri mereka. Merekalah kini memang yang mengerti ‘aturan’ itu, juga yang sebenarnya faham al Quran.
Selain modal sikap ‘tidak serba dunia’ ini, penting pula mereka yang muda ini faham juga masalahnya, asal-usul korupsi itu apa, dan kalau kita mau melawan dengan model seperti apa.
Sebagaimana Al-Quran menjelaskan :
....... وَوَيْلٌ لِّلْكَافِرِيْنَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ (2) اَلَّذِيْنَ يَسْتَحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْأَخِرَةِ .......
2. …….. Dan kecelakaan bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih,
3. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat,…….
Dalam surah lain juga di sebutkan:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ صَارَ النَّبَاتُ هَشِيْمًا يَابِسًا مُتَفَرِّقًا تَذْرُوْهُ تَنْشِيْرُهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللهُ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ مُّقْتَدِرًا
45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dalam hadits nabi di katakan:
إِنَّ اللهَ يَعْطِى الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْأَخِرَةِ , وَلَا يَعْطِى الْأَخِرَةَ بِعَمَلِ الدُّنْيَا
Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kenikmatan duniawi ini untuk melakukan perbuatan yang bisa membawa manfaat di akhirat(niat ikhlas menggapai ridlo-Nya), dan tidak akan diberikan pahala akhirat apabila perbuatan yang kita lakukan karena dunia (mengharap kepada selain Allah SWT)”
Dalam surat Al-‘Ankabut ayat 64 diuraikan:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَّلَعِبٌ وَّإِنَّ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
64. Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.
Manusia di akhir zaman sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW ibarat buih yang terapung dalam air. Jumlahnya yang banyak akan tetapi kualitasnya rendah. Manusia lemah kerana kelemahan jiwa mereka lantaran dibelenggu dua penyakit iaitu hubbu al-dunya (cintakan dunia) dan karahiyah al-maut (bencikan mati).
Apabila rasa cinta terhadap dunia merajai hati, apa jua tindak-tanduk yang dibuat hanya bertujuan keuntungan dunia yang fana semata-mata. Manusia menjadi silau dengan keindahan dan kemewahan dunia yang sementara. Islam diukur berasaskan material. Nilai keikhlasan dan daya juang makin terkikis dalam diri. Segala kerja dakwah yang disumbangkan karena mengharap pujian atau mengharapkan kenaikan pangkat.
Tiada lagi timbul kesedaran dalam diri bahwa tugas dakwah adalah amanah dan kewajiban yang akan dipersoalkan di hadapan Allah kelak, baik ditunaikan atau diabaikan?Sanggupkah kita memberikan jawaban kepada Allah Yang MahaKuasa di hari akhirat, bahwa kita tidak dapat menunaikan amanah itu kerana tiada balasan uang ringgit? Sanggupkah?
Kerana cintakan dunia, manusia meminggirkan hukum.Harta diburu tanpa melihat halal atau haramnya.Tidak peduli rezeki barokah atau tidak, yang penting kemauan dan nafsu dapat terpenuhi.
Bencikan kematian? Mengapa harus takut? Ia pasti datang menjemput kita.Usah kita menjadi seperti sebagian kaum Yahudi yang tidak pernah bercita-cita untuk mati malah memohon supaya dihidupkan lebih lama lagi kerana mereka risau tentang pembalasan Allah terhadap dosa-dosa yang dilakukan :
“Dan sudah tentu mereka tidak akan mencita-citakan mati itu selama-lamanya, Dengan sebab dosa-dosa Yang telah mereka lakukan; dan Allah sentiasa mengetahui akan orang-orang Yang zalim itu.”(Al-Baqarah : ayat 95).
Untuk apa memohon dipanjangkan usia andai sekadar untuk dipenuhi dengan maksiat dan kejahatan semata yang bakal mengundang kemurkaan Allah? Biarlah usia kita singkat, namun hidup kita penuh limpahan kasih sayang-Nya.
Penghujung kepada kehidupan dunia adalah kiamat. Kiamat harus diyakini. Terlalu banyak surah-surah di dalam Al-Quran yang menjelaskan persoalan kiamat, seperti Surah As-Sa’ah, Al-Qariah, Al-Haqqah, Al-Zalzalah dan sebagainya. Tidak cukup dengan penerangan di dalam Al-Quran, kajian astronomi turut membenarkan kandungan Al-Quran berhubung hakikat kiamat ini melalui teori bahawa semua benda pasti akan binasa. Tiada satu pun yang kekal, segalanya akan rusak dan musnah. Ini semua adalah Pertanda alam juga cukup untuk menguatkan keyakinan tentang adanya kiamat. Peristiwa tsunami, gempa bumi, banjir, tragedi tanah runtuh dan sebagainya menjadi sebagian alamat untuk kita fikirkan tentang kiamat pasti akan terjadi.
Usah bertangguh. Bertaubatlah dengan sebenar-benar taubat dan serahkan segalanya kepada Allah :
“Wahai orang-orang Yang beriman! bertaubatlah kamu kepada Allah Dengan ” taubat Nasuha”, Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke Dalam syurga Yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, pada hari Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang Yang beriman bersama-sama dengannya; cahaya (iman dan amal soleh) mereka, bergerak cepat di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka (semasa mereka berjalan); mereka berkata (ketika orang-orang munafik meraba-raba Dalam gelap-gelita): “Wahai Tuhan kami! sempurnakanlah bagi Kami cahaya kami, dan Limpahkanlah keampunan kepada kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”.(Surah At-Tahriim : ayat 8 )
Tingkatkan pelaburan amalan kita untuk dituai di alam akhirat.Kuatkan mujahadah menepis segala godaan dan bisikan syaitan yang cuba menjerumuskan kita ke lembah kehinaan. Supaya kehidupan kita di dunia ini, akan membawa manfaat esok di akhirat kelak. Sebagai pengakhir mari kita hayati firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu’ara’ 87-88 dan 89 :
وَلاَ تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَ (86) يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ (87) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)
“Dan janganlah Engkau hinakan daku pada hari makhluk-makhluk dibangkitkan hidup semula. Hari yang padanya harta benda dan anak pinak tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun, kecuali orang-orang yang menghadap kepada-Nya dengan hati yang bersih (lurus) “.
Ibnu Dahlan El-Madary
Alam Meduri, Pexal :06122011:05.00PM
Sholli ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi